Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Film ini mengandung beberapa catatan menarik terkait kondisi masyarakat setempat, antara lain:

  • Janda miskin yg begitu miskinnya sehingga tidak mampu menguburkan suaminya, sehingga… err dibiarkan begitu saja di ruang tamu. Sepertinya terkait penguburan yg melibatkan acara adat ya, karena kalau langsung menguburkan tinggal gali tanah dst dst.
  • Kesulitan transportasi. Untuk mencapai tempat yang dituju harus menunggu kendaraan umum beberapa jam.
  • Aparat penegak hukum yang lambat memproses kasus. Yah mungkin berhubung di pulau kecil, seberapa serius kah urusan yang terjadi?
  • Tidak ada dokter dan peralatan medis yang memadai untuk melakukan “visum et repertum”

Sebetulnya ide dasar cerita film ini sederhana. Tentang Marlina, seorang janda, yg walaupun miskin, tetap berusaha untuk tangguh mengatasi masalah-masalah yang ia hadapi, dibungkus dengan kritik sosial.

Dimulai dari menghadapi segerombolan pria yang merampok ternaknya, ia hadapi seorang diri. Menghabisi pria yang memerkosanya juga dilakukan sendiri. Kemudian menenteng kepalanya menempuh perjalanan jauh ke kantor polisi untuk mencari keadilan juga dilakukan sendiri. Setiap situasi sulit yang ia temui dihadapi dengan tenang

Beberapa poin yang cukup surreal:

  • Berani memenggal kepala pria yg memperkosa pas kejadian “sedang berlangsung”. Uhm sempat ya mengambil golok dalam situasi seperti itu.
  • Dua mayat dalam posisi duduk yg mirip di ruang tamu. Tentunya yg satu masih utuh, yg satu lagi kepalanya udah copot. Di tengah mereka duduk 2 orang dengan tenangnya. Simetris aneh gimana gitu rasanya
  • Apa maksudnya digentayangi hantu tanpa kepala? Manifestasi rasa bersalah?

Ya film ini menarik sekali. Dan tidak sepenuhnya serius. Sesekali ada humor yang agak dark yang mencairkan suasana. Tentunya dengan latar belakang pemandangan Sumba yang indah, diambil dengan perspektif wide angle sehingga terlihat lebih dramatis

OK stop dulu. Mendadak lapar. Kok pengen sup ayam ya hmm…

Be First to Comment

Leave a Reply