Pameran Pak Suherry Arno “Melampaui Fotografi”

Ini berawal dari video yang dipost Pak Arbain Rambey di FB-nya, mengenai pameran fotografi Suherry Arno. Seorang fotografer yang masih konsisten mem-foto dengan film berukuran besar dan mencetaknya sendiri di darkroom menghasilkan cetakan-cetakan hitam putih yang besar dan menawan. Sebelumnya, nama Suherry Arno adalah nama yang asing buat saya. Bukan nama yang sering terdengar seperti Darwis Triady, Arbain Rambey, Don Hasman, dst.

Tapi sebagai penggemar foto hitam putih, apalagi yang masih dikerjakan dengan cara manual seperti yang Pak Suherry lakukan (duh ini kan abad 21, masih ada gitu yg maen film ukuran besar? 😛 ) rasanya menarik sekali. Hmmm….

Saya dua kali mengunjungi pameran Pak Suherry Arno “Melampaui Fotografi” ( 28 September dan 4 November). Di tanggal 28 September, ada talkshow yang dipimpin oleh Pak Arbain. Membahas tentang kombinasi tehnik foto film dengan digital. Dua kali mengunjungi pameran, dan dua kali juga takjub dengan foto-foto yang dipajang di sana. Memang beda rasanya melihat foto bagus di Instagram, Flickr dst yang sebatas di monitor, dengan foto tercetak berukuran besar yang langsung bisa dinikmati di depan mata.

Entah ada berapa ratus foto yang terpajang disini. Disusun berdasarkan tehnik pencetakannya.

Deskripsi yang ada di setiap foto sangatlah minim (hanya lokasi dan tahun pemotretan). Toh itu sama sekali tidak menjadi halangan untuk menikmati foto-foto yang ada. Beberapa foto berhasil mencuri perhatian saya lebih. Sementara berjalan menyusuri galeri, saya sengaja mampir di depan foto-foto itu lagi.

Di salah satu sudut galeri, terpajang beberapa kamera large format yang dipakai Pak Suherry untuk memotret. Bagi anda yang menggunakan DSLR full frame, saya berharap anda tidak lagi merasa kamera anda itu paling berat sedunia 😛 .

Yang tidak kalah mengesankan adalah bagaimana Pak Suherry menjawab setiap pertanyaan dari pengunjung dengan telaten. Tidak ada kesan menggurui. Tanya jawab berlangsung seperti diskusi dengan teman sebaya saja.

Dari 2 kunjungan ini, saya mendapat beberapa tips berharga, antara lain:

  • Tidak lekas menganggap diri memahami sesuatu sebelum mampu menghasilkan 100 karya yang sama bagusnya.
  • Tidak ada foto yang jelek. Yang ada hanyalah foto yg tidak kita sukai, atau foto yang belum mencapai standar kita.
  • Selera tiap orang boleh saja berbeda, dan tidak perlu diperdebatkan mana yang benar, mana yang salah.
  • Memotret itu yang penting adalah memberikan kepuasan bagi diri sendiri. Orang lain suka itu bonus. Kecuali memang memfoto dengan agenda lain, misal mengejar “jempol” di medsos 😛 .
  • Alih-alih memotret mengikuti tren yang ada, coba memotret dengan gaya sendiri, syukur-syukur bisa mempengaruhi orang lain juga.

Pulang dari pameran, saya menyadari bahwa ternyata masih banyak lagi yang masih saya pelajari supaya minimal bisa seperti Pak Suherry. Mencetak foto sangat jarang. Develop film sendiri masih belum beres. Dan seterusnya.

Still a way long road to go… 😛

Be First to Comment

Leave a Reply