Gundala

Gundala itu openingnya bagus. Dimulai dengan kerasnya hidup seorang Sancaka kecil yang hidup tanpa orang tua. Karena tak bisa membela diri saat dikeroyok,
seorang remaja muda menolongnya membalas kawanan yang mengeroyoknya. Lalu mengajarinya bela diri dan prinsip-prinsip bertahan hidup.
Koreografi silatnya indah, mengingatkan kita akan Merantau atau The Raid. Nah sampai di bagian ini, cerita berjalan dengan baik.

Masalah dimulai ketika Sancaka sudah dewasa. Sebagai seorang penjaga kemanana pabrik,dia sama sekali tidak pernah berpikir akan menjadi pahlawan.

Kemudian kamera beralih ke perkenalan mengenai siapa musuh dari jagoan kita. Oh ternyata seorang bos mafia bernama Pengkor yang menyuap sejumlah anggota DPR.
Separuh wajah Pengkor ada luka bakar dan jalannya pincang, karena kecelakaan di masa kecil. Detailnya diceritakan dalam adegan flashback. Oh rupanya Pengkor ingin
generasi penerus bangsa ini menjadi sama bejatnya seperti dia, sehingga dia menyuruh anak buahnya menyuntikkan suatu cairan ke stok beras di pusat beras nasional.
Umm baiklah.

Kemudian diantara jagoan dan penjahat, kamera bergeser ke karakter di tengah: Wulan, seorang gadis yang memperjuangkan eksistensi pasar tradisional tempat ia berdagang. Gadis ini diganggu oleh 2 pria di tempat kosnya, alih-alih Sancaka menolongnya… bla bla bla dan kemudian di suatu malam kelompok pria itu gantian menyerbu Sancaka saat jaga malam di pabrik.
Dalam keadaan hampir mati setelah dilempar dari atas gedung, Sancaka terkena sambaran petir, dan jadilah dia superhero. Oh hai Flash! Disini, dia masih belum ngeh dengan kekuatan barunya, hingga suatu hari dia bertemu dengan gadis tersebut di pasar, sekaligus kelompok yang menghajarnya sampai nyaris tewas. Ha. Dan terjadilah perkelahian dimana Sancaka berhasil mengalahkan 30 orang. Melihat ini, Wulan beranggapan bahwa Sancaka bisa menolong kelompoknya. Tapi ternyata Sancaka sepertinya masih belum sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi dan tidak merespons apa-apa. Alhasil kemudian kelompok tersebut membakar pasar di malam hari. Singkat cerita, Wulan berhasil memaksa supaya Sancaka menolongnya.
Semacam momen Batman Begins disini. Errr…..

Usut punya usut, ternyata pemimpin pembakaran pasar itu adalah salah satu anak buah Pengkor. Sementara sejumlah anggota DPR kebingungan bagaimana cara melawan Pengko dan obat yang sudah ia suntikkan ke stok beras. Mari bahas dalam rapat.
Oh ternyata melalui media sosial terlihat seorang sosok yang bisa diharapkan: Gundala. Bagaimana jika sosok tersebut dihubungi? Ada nomor hape?

Berlanjut dengan Pengkor menghubungi elite squade-nya (ala John Wick) untuk menghabisi para anggota DPR yang bersepakat melawan dirinya, dan juga untuk menghadapi Gundala. Ekspektasi saya ini akan menyebabkan pertarungan yang laamaaaa yang bisa memojokkan Gundala. Sepertinya hampir begitu…. dan ternyata mereka dikalahkan mudah begitu Gundala “gone berserk” karena melihat teman sekerjanya ditusuk. Luar biasa sekali. Hai Thor Ragnarok, BTW.

Lucunya Pengkor ada disitu. Haduh bapak Pengkor, anda itu jalan saja ngga becus. Mungkin begitu PD dengan anak buah sehingga ikut datang ke sarang musuh?
Anda itu bukan Ra’s al Ghul lho. Nah mati konyol kan jadinya.

Film ini nampaknya berambisi menjadi pembuka suatu superhero universe, sayang eksekusinya gagal. Secara umum dialog masih terasa kaku, layaknya sedang membaca teks.
Ibarat orang yang sedang makan, alangkah baiknya jangan semua hidangan langsung dikeluarkan. Satu per satu dulu saja.
Semoga film-film berikutnya dalam Jagat Bumi Langit tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

Leave a comment

Your email address will not be published.